Tautan-tautan Akses

Warga Libya Mengatakan Pemerintah Harus Disalahkan atas Banjir


Para petugas SAR masih mencari jenazah korban banjir di Derna, Libya, Kamis, 21 September 2023. (Foto: Zohra Bensemra/Reuters)
Para petugas SAR masih mencari jenazah korban banjir di Derna, Libya, Kamis, 21 September 2023. (Foto: Zohra Bensemra/Reuters)

Ribuan orang tewas dan ribuan lainnya hilang akibat bendungan yang seharusnya diperbaiki, jebol. Rakyat marah dan kini dengan sebagian besar wartawan dilarang bertugas di Derna, Libya, penduduk setempat semakin sedikit mendapat jalur untuk mengungkapkan kemarahan mereka secara terbuka.

Ketika protes melanda rumahnya awal pekan ini, Khalid Alkowash, 42, seorang pegawai pemerintah daerah di Derna, merasa khawatir, tetapi tidak terkejut.

“Mereka sudah gila,” kata Alkowash di luar rumahnya di dekat rumah wali kota, yang hangus akibat kebakaran yang dilakukan oleh para pengunjuk rasa. “Mereka memecahkan barang-barang, berteriak-teriak.”

Banjir besar di Libya timur melanda Derna pada 11 September, menyapu seluruh lingkungan ke laut, dan menghancurkan wilayah itu. Organisasi Internasional untuk Migrasi mengatakan, lebih dari 43.000 orang mengungsi. Penyelam menarik 125 jenazah dari laut pada Rabu (20/9), dan petugas penyelamat mencari ribuan lainnya.

Pada Senin (19/9), alun-alun utama Derna dipenuhi ribuan pengunjuk rasa, yang memulai hari itu dengan meneriakkan, “Tuhan Maha Besar!” dan “Libya adalah Satu Bangsa!” Seiring berjalannya waktu, mereka mulai menyerukan jatuhnya pemerintahan dan pengunduran diri wali kota.

Safwat Elgiathi, seorang guru sekolah menengah berusia 24 tahun mengatakan, warga marah pada setiap tingkat pemerintahan yang seharusnya bisa mencegah kegagalan prasarana yang menyebabkan banjir. [ps/jm]

Forum

XS
SM
MD
LG